Traveling ke Kota Malang yang Penuh Drama Part 1

Traveling ke Kota Malang yang Penuh Drama Part 1

Kebayang nggak sih kalau saat traveling ke salah satu kota atau negara kalian justru disuguhi dengan berbagai macaam drama? Kali ini saya mengalaminya sendiri saat solo traveling ke Kota Malang. Ya, traveling memang penuh kejutan kan. Tapi kali ini drama yang saya alami lebih dari sebatas saya anggap menyenangkan seperti perjalanan-perjalanan saya sebelumnya. Kok bisa gitu? Memangnya apa yang saya alami?

 

Hampir Ketinggalan Kereta SBY – MLG

Traveling ke Kota Malang
KA Tambahan SBY Gubeng – Malang Kota Baru

Setelah sempat berkunjung ke Surabaya pada 21 – 23 Agustus 2018, saya melanjutkan perjalanan ke Kota Malang. Rencana awal yang indah sudah tersusun dengan rapi, mulai dari solo trip ke Batu, menjelajah objek wisata populer di pusat kota, kulineran, dan pastinya bertemu sahabat tercinta yang saat ini tinggal di Malang.

 

Menuju ke Malang saya sudah booking kereta api sejak jauh-jauh hari. Kereta yang akan saya tumpangi kali ini merupakan kereta tambahan dengan rute Stasiun Gubeng – Stasiun Malang Kota Baru. Harganya cukup terjangkau, hanya 40 ribu rupiah per kursi.

 

Berbekal semangat 45 karena ini pertama kalinya saya solo traveling ke Kota Malang, saya sudah selesai berkemas setelah selesai subuh. Rencananya check-out dari hotel jam 6 pagi kemudian langsung ke stasiun karena jadwal kereta yang akan saya tumpangi berangkat jam 6.50 WIB dari Stasiun Gubeng. Tapi yang terjadi justru saya baru bisa keluar dari penginapan menjelang setengah 7 pagi.

 

Jam 6 kurang sekian menit saya sudah siap turun dari lantai tiga menuju resepsionis. Ojek online yang saya pesan bahkan sudah hampir sampai di hotel. Tapi sampai di resepsionis masih tidak ada orang sama sekali, pintu juga masih tertutup dengan rapatnya. Berkali-kali saya berkeliling dan mencoba memanggil staff atau mungkin siapapun pihak penginapan. Baru setelah lebih dari 15 menit saya mendapatkan jawaban dari salah satu rungan di bawah tangga menuju lantai dua. Beberapa menit kemudian mas resepsionis keluar dari ruangannya dengan “muka bantal”.

 

Saya langsung mengutarakan maksud untuk check-out, pintu dibuka, dan ojek online pesanan saya sudah menunggu lebih dari 15 menit di luar penginapan. Ditemani seorang pria yang masuk kemudian berkomunikasi dengan mas resepsionis.

 

Meskipun waktu perjalanan sudah tidak banyak dan jarak tempuh ke Stasiun Gubeng sekitar 2 kilometer, saya berhasil sampai tanpa perlu ketinggalan kereta. Semua berkat bapak ojol yang gesit membelah jalanan Surabaya dan beruntungnya pagi hari itu jalanan cukup lengang.

 

Minimnya Informasi di Stasiun Gubeng Baru

 

Kurang dari 5 menit akhirnya saya berada di dalam Stasiun Gubeng Baru. Langsung saja saya menuju mesin check-in, kemudian duduk di jajaran  kursi yang tidak jauh dari pintu masuk. Jujur saja saya celingukan mencari papan informasi kedatangan dan keberangkatan kereta yang tidak kunjung saya temukan. Satu-satunya senjata untuk mengetaahuinya hanya mengandalkan pengumuman melalui pengeras suara dan dari kertas papan nama kereta yang datang (dan akan berangkat) di meja pemeriksaan identitas.

 

Jam 6.40 WIB saya sudah selesai melakukan pemeriksaan boarding pass dan identitas diri. Tapi saya masih harus kembali menunggu, kali ini di waiting room dengan pintu-pintu besar mengarah ke rel kereta. 5 menit kemudian saya bertanya ke petugas mengenai kereta yang akan saya tumpangi, di mana jawabannya hanya perlu menunggu.

 

Saya menggeser tempat duduk ke dekat para petugas untuk memudahkan melirik papan nama kereta yang akan berangkat, sampai pada akhirnya masuklah wanita muda yang usianya lebih muda atau mungkin seumuran dengan saya check-in dan menanyakan apa yang tadi sempat saya tanyakan. Merasa punya teman seperjalanan saya akhirnya mulai SKSD dengan wanita yang bodohnya saya tidak tahu namanya. Yang saya tahu dia asli  Surabaya dan bekerja di Malang. Sayangnya, kursi kami ternyata terpisah cukup jauh, dia di nomor 5 dan saya di nomor 8.

 

Kehilangan Botol Minuman di Alun-alun Tugu Malang

View this post on Instagram

Kalau suatu hari nanti aku ditanya kota apa yang berkesan buatku selama traveling, maka salah satunya akan aku jawab Malang. Kenapa? Karena solo traveling ke Malang bagi seorang Reksita itu banyak dramanya. Mulai dari hampir kesiangan ke stasiun gara-gara yg bawa kunci hotel masih tidur, muter-muter nyariin museum yang katanya sudah pindah tempat, sampai harus mengorbankan waktu jalan-jalan demi mengurus perubahan tiket kereta yang salah di Stasiun Malang. Pasti yang baca ini sambil mikir, "Kok bisa?" Itu juga kalau dibaca sih. Buat yang baca dan pengen tahu kenapa bisa sebegitu drama. Klik aja link di bio. Cerita lengkapnya sepanjang-panjangnya ada di blog. #solotraveling #solotraveler #exploremalang #explore #malang #exploreindonesia #travelpost #traveling #travelblogger #travelblogging

A post shared by Reksita Wardani (@reksitawardani) on

Sesuai jadwal, saya sampai di Malang sekitar jam 9 pagi. Masih sangat pagi dan cuaca cerah, cocok kan untuk langsung menjelajah Kota Malang yang penuh kejutan?

 

Kereta yang saya tumpangi berhenti di jalur dua dan saya harus masuk ke semacam terowongan menuju pintu keluar Stasiun Malang Kota Baru. Sampai di luar pilihan transportasi sebenarnya lumayan melimpah, mulai dari angkot, taksi, hingga ojek online. Semua transportasi tertata rapi di areanya masing-masing. Tapi saya memilih untuk jalan kaki dengan backpack sebesar tubuh di saya di punggung. Kemana? Menuju Alun-alun Tugu Malang.

 

Sebenarnya tujuan saya kesini adalah untuk sekalian menuju terminal Macito (Malang City Tour) yang tidak jauh dari Alun-alun Tugu Malang. Sayangnya saya yang baru sampai setelah jam 9 lebih sekian menit sudah tertinggal. Ya, karena Macito berangkat pada jam 9 pagi.

 

Gagal naik Macito saya hanya duduk-duduk sebentar menikmati sengatan matahari Kota Malang, melihat anak-anak sekolah yang entah sedang apa berkeliling alun-alun, hingga mengekor di belakang rombongan wisatawan asing. Setelah mengekor inilah Tupperware (sebut saja botol minum) pink imut milik saya jatuh, tertinggal, kemudian menghilang untuk selama-lamanya. Hiks

 

Naik Ojol ke Indomaret Tapi Jalan Kaki ke Hostel

Traveling ke Kota Malang
Butik Capsule Hostel Dorm Room Female Only

Saya itu aneh, mungkin begitu pendapat dari beberapa orang yang nggak habis fikir dengan jalan pikiran saya. Seperti hari itu, dari Alun-alun Tugu Malang saya memesan ojol karena ingin segera sampai hotel, makan siang, dan menyelesaikan pekerjaan saya. Tapi saya justru memesan ojol dengan tujuan akhir Indomaret WR Supratman. Ya, awalnya saya hanya ingin membeli roti dan beberapa camilan, yang kemudian sekalian beli air mineral karena ingat botol minum saya sudah tidak di tangan.

 

Keluar dari Indomaret saya menyalakan panduan Google Maps menuju Butik Capsule Hostel. Jaraknya hanya sekitar 250 meter dan artinya tidak lama untuk saya tempuh dengan jalan kaki. Paling tidak dengan kebiasaan jalan saya yang tidak terlalu cepat atau lambat butuh waktu sekitar 3-4 menit.

 

Melewati rel kereta api dan beberapa bangunan saya sempat hampir terlewat menemukan Butik Capsule Hostel yang berupa ruko dua lantai. Apalagi bagian luarnya tidak terlalu luas dan terletak di paling pojok deretan ruko.

 

Sejujurnya pengalaman saya jalan kaki kurang menyenangkan. Jalanan cukup sempit untuk kendaraan yang demikian ramai. Ditambah lagi tidak ada trotoar yang bisa dimanfaatkan  dengan baik oleh pejalan. Bukan karena digunakan pedagang ya, tapi memang benar-benar tidak ada trotoar. Di atas setiap selokan ada semacam besi penutup yang memungkinkan air dari jalanan dengan mudah masuk ke saluran air. Di atas besi penutup itu juga ditempatkan pot-pot  berisi aneka macam bunga yang saya tidak paham apa fungsinya. Intinya, kesan saya sangat tidak pejalan kaki friendly.

 

Drama solo traveling ke Kota Malang pun bersambung …

  • 2
    Shares

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

error: Content is protected !!