Solo Traveling ke Jogja 5D4N ala Reksita

Solo Traveling ke Jogja 5D4N ala Reksita

Yogyakarta memang selalu mengundang rasa rindu, tentang warisan budaya-nya, tentang situs bersejarah-nya, tentang gudeg lezatnya, tentang live musik-nya, dan tentang Malioboro yang lupa kapan waktunya tidur. Dan bagi saya, Kota Gudeg selalu punya cerita untuk dinikmati, dikenang, lalu diceritakan kembali.

30 April – 4 Mei yang lalu saya nekat untuk melakukan solo traveling ke Yogyakarta, demi memuaskan hasrat traveling sekaligus melepas rindu. Sejujurnya sih waktu yang kurang dari satu minggu itu masih kurang bagi saya, karena sudah pasti melewatkan destinasi wisata yang berada di luar perkotaan dan juga pantainya dengan ombak yang senantiasa menggoda.

Jadi, kalau begitu sebenarnya saya pergi kemana saja selama berada di Kota Gudeg?

Kenapa sih Memilih Yogyakarta Sebagai Tujuan Pertama Solo Traveling?

yogyakarta

Jawabannya sangat sederhana, Yogyakarta ini menjadi salah satu destinasi yang paling direkomendasikan di Indonesia bagi para solo traveller pemula, khususnya traveller perempuan.

Bukan tanpa alas an Yogyakarta ditetapkan sebagai salah satu kota recommended bagi solo traveller perempuan pemula. Dari sekian banyaknya alas an, saya sendiri mengiyakan kebutuhan pengeluaran untuk keperluan makan yang sangat terjangkau, termasuk kuliner populernya yakni nasi gudeg. Sekali makan di Jogja hanya menghabiskan budget kurang dari 30 ribu itu masih sangat mungkin, selama pintar mencari tempat makan.

Selain dari sisi harga makanan, Jogja juga punya banyak penginapan dengan harga yang memang budget. Bahkan ada juga yang harga kamarnya per malam itu hanya sekitar 60 ribu rupiah. Beberapa diantaranya bahkan punya social media loh, jadi bisa langsung dipantau dan dihubungi untuk menanyakan harga dan ketersediaan kamarnya.

Tidak berhenti disitu saja, saya juga mengiyakan kalau Kota Gudeg itu tergolong aman bagi solo traveller perempuan. Terlebih lagi warga sekitar juga ramah dan dengan senang hati bersedia kok memberikan informasi kalau saya tiba-tiba kebingungan arah, atau sedang mencari tujuan tertentu yang di GMaps sendiri terlalu memusingkan. Ya, meskipun pada hari buruh 1 Mei 2018 lalu sempat ada berita di TV bahwa terjadi kerusuhan di salah satu Universitas yang ada di Kota Gudeg, tetapi di wilayah yang padat wisatawan faktanya tetap aman sejatera. Demo juga hanya berlangsung di siang hari, dan itupun berpusat di sepanjang Jalan Malioboro – Titik 0 Km.

Tujuan Destinasi Pilihan Kalau Hanya Berkeliling di Kota Kemana Saja?

Kalau kamu berencana solo traveling ke Yogyakarta tapi hanya punya beberapa hari seperti saya, apalagi ini merupakan momen solo traveling pertama, sangat disarankan untuk menghabiskan waktu di kota atau paling tidak lokasi yang memang tidak terlalu jauh dari kota. Perjalanan menuju ke pantai agak sedikit kurang recommended bagi perempuan yang benar-benar seorang diri. Apalagi masih asing karena belum pernah ke wilayah pantai Yogyakarta.

Nah, meskipun hanya berkeliling kota, ada banyak tempat kok yang bisa dikunjungi, antara lain:

1. Malioboro

yogyakarta

Ke Jogja ya pastinya jangan lupa ke Malioboro. Mau dari pagi sampai malam di Malioboro juga bebas-bebas saja, karena memang destinasi yang satu ini full 24 jam. Tidak heran kan kalau sampai dijuluki destinasi yang nggak pernah tidur.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan di sini, mulai dari berburu aksesoris atau barang-barang khas Jogja lainnya, berburu kuliner, sampai menyaksikan live music dari sederet musisi Jogja yang biasa tampil secara live di sepanjang Malioboro. Dijamin berkesan deh, apalagi para musisi ini tampil menggunakan berbagai peralatan music tradisional.

Bagi yang rindu atau pengen mencicipi gudeg Jogja, tidak jauh dari pusat keramaian Malioboro bisa langsung mampir juga ke Gudeg Yu Djum, salah satu warung gudeg yang populer di Yoykagarta.

2. Banteng Vredeburg

yogyakarta

Kalau hanya ingin menyusuri Malioboro saat malam hari, pagi atau siangnya bisa mampir dulu di Benteng Vredeburg. Ini salah satu bangunan bersejarah di Jogja yang padat pengunjung loh. Tiket masuknya juga sangat terjangkau, hanya 3 ribu rupiah untuk wisatawan lokal. Tapi perlu dicatat, destinasi ini tutup pada hari Senin. Jangan seperti saya yang lupa memeriksa jadwal buka dan tutupnya sampai dating saat hari senin dan hanya menemukan tulisan “CLOSED” di pintu masuknya.

3. Pasar Sore Bringharjo

Eits jangan lupa menunggu sore sejenak untuk mampir ke Pasar Sore Bringharjo. Saya lebih suka berburu oleh-oleh, terutama berbau pakaian seperti kaos khas Jogja, di pasar sore yang berada di antara Malioboro dan Titik 0 Km ini. Nggak tahu kenapa sih sebenarnya, Cuma saya merasa memang disinilah pusatnya oleh-oleh yang saya cari, pilihannya jauh lebih beragam, dan harganya sedikit lebih bisa dimiringkan.

Saya yang sudah berkali-kali berkunjung ke Jogja seringnya berburu kaos couple yang harganya 50 ribu atau dengan trik menawar receh “kalau bisa dikurangi sedikit lah”, di Pasar Sore Bringharjo ini.

4. Titik 0 Km

Solo Traveling ke Jogja 5D4N ala Reksita

Sebenarnya sih tidak perlu bergeser jauh dari Pasar Bringharjo dan Benteng Verdeburg, nikmati saja riuhnya Jogja di Titik 0 Km. Saya tadinya berniat untuk bisa masuk ke Monuman Serangan Umum 1 Maret, tapi ternyata di hari Selasa yang berbarengan dengan demo Hari Buruh saat itu ditutup. Jadi ya saya kembali menikmati padatnya wisatawan dari Titik 0 Km. Sambil sekalian mencari-cari yang mana sih Monumen Batik Jogja itu.

5. Alun-alun Lor dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

yogyakarta

Melipir meninggalkan Titik 0 Km pilihannya bisa mampir ke Museum Sonobudoyo atau langsung ke Alun-alun Lor dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Nah, sayangnya saat hari demo itu Museum Sonobudoyo rupanya juga ikut tutup, sehingga saya dan sejumlah pengunjung lainnya jadinya gagal mampir. Dan sebagai obat lara, langsung saja menyusuri luasnya lapangan hijau dengan pohon beringin kembar bernama Alun-alun Lor.

Siang hari sejujurnya hanya ada panas mendera di Alun-alun Lor. Jadi siang hari adalah waktu yang paling tidak recommended untuk berkunjung ke tempat ini. Sebagai gantinya, lebih baik langsung masuk ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Jangan lupa tentunya beli tiket terlebih dahulu dengan harga 5 ribu rupiah untuk wisatawan lokal.

Guide juga siap mendampingi kalau memang kamu butuh guide selama berkeliling. Kalau saya sih lebih memilih menikmatinya dalam ketenangan, jadi guide saya ya brosur wisata yang didapatkan dari loket saat membeli tiket masuk. Sama saja kok, tidak kalah lengkap penjelasannya mengenai seluruh penjuru kompleks kraton.

6. Istana Air Taman Sari

taman sari jogja

Kalau sudah napak tilas di tempat tinggal Sultan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, ya pastinya perjalanan selanjutnya jangan sampai melewatkan Istana Air Taman Sari. Masuknya hanya perlu membayar sebesar 5 ribu rupiah saja kok. Di sini juga ada guide yang dengan senang hati memandu berkeliling. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menyewa guide? Biayanya sukarela, karena mereka berpegang pada tujuan edukasi.

Nah, di dalam Taman Sari ini bisa melihat langsung bagaimana sih rupa dari kompleks permandian keluarga Sultan pada masanya. Kolam-kolam luas dengan air yang jernih, tempat berganti pakaian, hingga menara dan tempat spa special untuk raja, semua bisa menjadi tambahan pengetahuan tentang betapa kayanya Jogja dengan warisan budaya Jawa. Bangunan-bangunannya juga masih sangat kokoh, meskipun sempat mendapat sedikit sentuhan renovasi pasca gempa beberapa tahun yang lalu.

7. Sumur Gumuling

yogyakarta

Masih pegang tiket masuk dari Istana Air Taman Sari ya sekalian berkunjung ke masjid bawah tanah Sumur Gumuling, jangan lupa guide-nya juga sekalian diminta untuk menemani supaya bisa menambah wawasan dari penjelasan beliau. Tenang, letaknya tidak jauh kok dari Taman Sari, hanyaa saja harus melewati kawasan pemukiman warga yang pada masanya merupakan danau buatan.

Sumur Gumuling ini sebagaimana namanya, pada masa kepemimpinan Sultan HB I difungsikan sebagai masjid bawah tanah. Terdiri dari dua lantai yang mana lantai pertama untuk jamaah perempuaan dan lantai ke dua untuk jamaah laki-laki. Sementara di bagian tengah bangunan terdapat tangga-tangga tempat selfie ikonik yang banyak berseliweran di social media. Tempat ini sejatinya dahulu berfungsi sebagai tempat berwudu, airnya diambil dari sumur kecil yang berada di bawah tangga.

8. Situs Warungboto

yogyakarta

Setelah dari kompleks tempat tinggal, permandian, dan tempat beribadah, saatnya melipir ke pesanggrahan atau tempat beristirahat keluarga Sultan. Destinasi yang saya maksud tidak lain adalah Situs Warungboto. Bangunan yang pada masanya menjadi pesanggrahan keluarga kerajaan ini memang hanya terisa dindingnya yang tinggi menjulang. Di mana dinding-dinding yng tersisa pun sudah mendapatkan sentuhan renovasi.

Di dalamnya terdapat ruang-ruang dengan beberapa lorong, termasuk juga dua kolam ikonik yang konon difungsikan sebagai tempat mandi ratu.

O iya, saat saya berkunjung ke Situs Warungboto ini masih belum ada tiket masuk. Salah satu alasannya karena memang masih dalam tahap renovasi dan pengembangan. Meskipun begitu ada buku tamu yang sebaiknya diisi, sekaligus bisa diselipkan lembaran uang dengan besar sukarela sebagai kontribusi ke dalam buku tamu tersebut.

9. Jembatan Sayidan

yogyakarta

Kalau ini sih hanya tujuan saya untuk bernostalgia. Karena 8 tahun yang lalu, saya dan teman-teman seperjuangan saya yang juga berkesempatan Prakerin di Jogja pernah melewati keseruan berjalan-jalan di Jembatan Sayidan. Sejujurnya jembatan yang satu ini keren loh jadi latar belakang berfoto selfie. Tapi lebih baik ke tempat ini saat sore hari ya, jadi tidak terlalu panas.

10. Babadan Puro Pakualaman

yogyakarta

Selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, terdapat kompleks kraton lain yang bagi saya perlu untuk dikunjungi. Destinasi yang jadi incaran saya ini adalah Babadan Puro Pakualaman. Saya sih kesini bukan berkeliing kompleks ya, hanya berkeliling museum mini ya berada di kompleks ini.

Disambut petugas lengkap dengan baju adat Jawa, saya hanya perlu mengisi buku tamu dan langsung diantar memasuki museum. Ditawari juga kok bersedia atau tidak ditemani guide, tapi sayangnyaa saya saat itu tidak meminta untuk dipandu. Jadi, saya berkeliling sendiri dan membaca-baca sebagian besar isi museum yang merupakan barang-barang bersejarah Pakualaman dari masa ke masa.

11. Taman Pelangi Monjali

taman pelangi

Saat siang hari bisa ke Monumen Jogja Kembali, tetapi jangan berharap menyaksikan lampion cantik di Taman Peelangi. Sementara kalau tujuannya adalah berselfie dengan latar lampion-lampion unik warna-warni, datanglah saat malam hari.

Dating saat malam hari dengan tiket masuk sebesar 15 ribu rupiah per pengunjung, berkeliling taman pelangi tidak ada habisnya dengan suguhan lampion-lampion romantis. Bisa juga nongkrong di beberapa penjual makanan di kawasan ini. Atau mau melepas stress dengan bermain bersama kelinci juga bisa. Bagi yang jantungnya yakin sehat dan suka dengan sesuatu yang berbau horror, saatnya mampir ke Rumah Hantu yang juga menjadi bagian dari Taman Pelangi Monjali.

Nah, itulah beberapa destinasi wisata yang saya kunjungi selama menghabiskan waktu hampir seminggu di Kota Gudeg. Jangan lupa tunggu blog post saya selanjutnya ya, karena saya akan berbagi cerita mengenai pilihan penginapan dan transportasi selama perjalanan solo traveling ke Yogyakarta.

  • 3
    Shares

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

error: Content is protected !!