Menjadi Kontributor Shutterstock, Menguji Kreativitas dan Kesabaran

Halo temans,

Apa kabar?

Semoga sehat selalu dan masih pada betah di rumah selama pandemi ini masih berlangsung.

Kali ini saya mau sedikit berbagi cerita tentang menjadi kontributor Shutterstock. Mungkin kalian sudah berkali-kali menemukan judul artikel yang mirip seperti ini di internet. Tapi, saya yakin setiap artikel memiliki ceritanya masing-masing sesuai dengan pengalaman penulisnya. Seperti halnya dengan cerita saya hari ini, yang mungkin berbeda dengan artikel serupa yang sudah pernah kalian baca.

Oke, daripada intronya semakin panjang, langsung saja saya mulai ceritanya.

Sempat Menghilang Setelah Diterima Menjadi Kontributor Shutterstock

menjadi kontributor shutterstock

Jadi sebenarnya saya sudah mendaftar sebagai kontributor Shutterstock itu sejak sekitar Mei 2018. Tepatnya setelah saya pulang solo travelling dari Yogyakarta. Saat itu saya langsung mengupload beberapa foto dan ternyata ada yang diterima. Tetapi setelahnya saya menyerah. Alasannya? Klasik, karena tidak kunjung mendapatkan download.

Meskipun begitu, pada September 2019 lalu tiba-tiba saya jadi ingin kembali mempelajari sumber penghasilan yang satu ini. Alhasil mulailah saya rutin mengupload foto selama beberapa minggu. Sampai akhirnya saya berhasil mendapatkan notifikasi “Your media was downloaded for the 1st time!“. Ya, saya mendapatkan download untuk pertama kalinya pada Oktober 2019 (tanggalnya saya lupa).

Sejak saat itulah saya bertekad untuk terus mengupload. Meskipun masih sering juga libur panjang upload saat kehabisan ide, sibuk mengurus pekerjaan utama, atau nggak diajak jalan-jalan. Hehe

Temanya Random, Foto Iya, Vektor pun Oke

menjadi kontributor shutterstock

Nah, ini mungkin salah satu yang sering menjadi pertimbangan banyak orang saat ingin mencoba menjadi kontributor Shutterstock. Tema apa yang paling laku? Bagaimana kalau foto dan vektor dijadikan satu akun?

Saya sendiri termasuk kontributor yang bandel. Sebenarnya sih bukan juga mengikuti trend seperti beberapa kontributor dengan tema random di luar sana. Saya lebih ke menentukan tema ‘suka-suka yang sedang ingin saya potret’. Iya. Jadi kalau sedang travelling ya saya upload foto dengan tema travelling, kalau sedang nggak travelling ya upload yang lainnya seperti isi dapur (bumbu, sayur, dan lain-lain), makanan, tanaman, dan lain sebagainya. Sederhananya, memanfaatkan apa yang ada dan mengikuti ide yang muncul pada saat itu.

Apakah laku? Bisa iya, bisa juga tidak. Bisa kalian lihat sendiri dari gambar di atas. Untuk yang ini sih saya percaya rezeki itu sudah ada yang mengatur.

Selain foto, saya juga beberapa kali mengupload vektor. Ada beberapa pattern dan sisanya ilustrasi mengenai aktivitas sehari-hari. Ini juga dibuat sesuai dengan tema ‘suka-suka saya’ dan style ala Reksita.

Ada yang download? Alhamdulillah ada. Meskipun baru beberapa. Download pertama sih vektor gerakan yoga seperti dalam gambar di atas.

Earningnya Masing Belajar Merangkak, Belum Bisa Berjalan Tegak

menjadi kontributor shutterstock

Ini dia pembahasan yang mungkin ditunggu-tunggu. Earning alias pendapatan.

Kalau saya sih bisa dibilang bukan tipe yang langsung bisa melakukan payout pada bulan ke 2, 3 atau 4 setelah menjadi kontributor Shutterstock. Bahkan sampai blog post ini ditulis, saya baru mendapatkan sekitar $9.25 dari 37 total download. Iya, karena hampir semuanya bersumber dari subscriptions dengan pendapatan $0.25 per download. Sementara 1 gambar mendapatkan tipe download single & other, tetapi dengan nilai yang sama yaitu $0.25.

menjadi kontributor shutterstock

Ini sih mungkin nggak berarti apa-apa bagi kalian. Tetapi bagi saya ini patut disyukuri dan semakin membuat saya bersemangat. Terutama untuk terus menghidupkan kembali ide-ide kreatif di dalam otak saya yang selama ini sempat mati suri karena lama tidak terpakai. Hihi

Oh iya, dari sekian download itu, hingga saat ini penjualan tertinggi masih berasal dari tema alam, travelling, editorial, dan vektor.

Bagaimana Nasib Kontributor Shutterstock di Tengah Pandemi Covid-19?

menjadi kontributor shutterstock

Ada yang berniat menjadi kontributor Shutterstock tapi ragu karena adanya pandemi Covid-19? Kalau menurut saya sih mendingan ragunya disimpan dulu di dalam kulkas, supaya membeku dan lebih segar. Enak buat buka puasa.

Karena selama pandemi ini berlangsung, dunia per-kontributor-an masih berjalan seperti biasanya. Beberapa memang ada yang mengeluhkan downloadnya menurun. Tetapi tidak sedikit juga yang justru mendapatkan kenaikan pendapatan, terutama dari tema seputar Covid-19. Apalagi ini masih Ramadhan dan sebentar lagi menyambut Idul Fitri. Justru ini dimanfaatkan sebagai kesempatan emas bagi kebanyakan kontributor untuk meningkatkan earning mereka dengan memperbanyak stok dua tema tersebut.

Saya sendiri mendapatkan peningkatan jumlah download dan sejauh ini April 2020 menjadi bulan dengan download terbanyak. Meskipun saya nggak memenuhi akun saya dengan foto atau vektor bertema Covid ataupun Ramadhan.

Jadi, intinya, kalau kalian memang tertarik menjadi kontributor Shutterstock. Tidak ada yang lebih baik selain melakukannya sesegera mungkin. Nggak akan ada yang tahu apa yang akan didapatkan tanpa mencobanya sendiri. Toh, rezeki saya, mereka dan kalian kan berbeda.

Coba saja dulu, nanti ceritakan pengalaman kalian untuk menginspirasi orang lain.

Kalau cerita saya cukup sampai di sini dulu, ya. Lain kali saya sambung lagi kalau memang sudah ada cerita baru. Siapa tahu kan dalam waktu dekat saya bisa melakukan payout. Amin.

Tambahan:

Kalau kalian tidak keberatan, bisa mencoba mendaftar menjadi kontributor Shutterstock melalui link affiliasi saya di bawah ini.

——– DAFTAR SHUTTERSTOCK CONTRIBUTOR ———–

(Visited 12 times, 1 visits today)

Leave a Reply