Museum Kereta Api Ambarawa: Yuk Belajar Sejarah!

Ada yang suka dengan destinasi sejarah dan edukasi? Sudah pernah mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa? Wah, kalau belum artinya kamu harus segera meluangkan waktu untuk berkunjung ke salah satu destinasi di Kabupaten Semarang ini.

Tiketnya Terjangkau, Screening Tiket Canggih

ticketing museum ka ambarawa

Oke, kita mulai dulu dari harga tiket ya. Kenapa saya taruh ini di awal blog post? Karena sebelum masuk kita kan sudah harus memegang tiket. Jadi, penting kan untuk tahu berapa harganya.

Nah, harga tiket masuk ke Museum Kereta Api Ambarawa ini hanya Rp 10ribu rupiah, untuk pengunjung dewasa atau mahasiswa.

Tiket bisa dibeli di ruangan khusus yang melayani tiket. Gedung dengan tulisan “Entrance/Masuk” di bagian depannya. Di bagian loket ini juga bisa sekalian memesan tiket untuk kereta wisata.

Selanjutnya, setelah mendapatkan tiket bisa langsung menuju ke pintu masuk kawasan museum yang ada penjaganya. Di sana ada alat khusus untuk screening tiket. Sejujurnya ini pemeriksaan tiket paling canggih yang sejauh ini saya temukan. Biasanya tiket diserahkan ke penjaga dan disobek atau dilubangi.

Disambut Lorong Sejarah Dunia Perkeretaapian

lorong sejarah kereta api

Setelah melewati pemeriksaan tiket, pengunjung langsung disambut lorong sejarah.

Di sepanjang lorong ini bagian dindingnya berisi sejarah dunia perkeretapian, mulai dari stasiun di berbagai daerah di Indonesia hingga perkembangan kereta api sejak pertama kali masuk ke Indonesia.

Jadi jangan heran kalau lorongnya sangat panjang.

Di lorong ini juga ada satu spot yang berisi foto-foto pengunjung. Fotonya ditempel di semacam mini sutet. Letaknya tepat di tengah-tengah lorong.

Gedung Arsip dan Peralatan Administrasi

gedung arsip

Di ujung lorong sejarah sebenarnya ada dua pilihan, ke kiri langsung ke pameran kereta dan gedung tunggu atau lurus ke gedung pameran peralatan administrasi. Saya memilih untuk lurus terlebih dahulu agar tidak ada area yang terlewatkan.

Gedung pameran peralatan administrasi ini bersebelahan dengan mushola. Di depannya terpajang mesin kereta api. Sementara di bagian dalamnya berisi beraneka macam peralatan administrasi dan arsip dari tahun ke tahun.

Peralatan yang saya maksud seperti halnya mesin ketik, mesin cetak tiket, mesin pencetak nomor antrean, telepon, dan masih banyak lagi. Termasuk juga beberapa peralatan yang dahulu digunakan untuk memberikan sandi atau kode dalam pengoperasian kereta uap.

Mampir ke Miniatur Pemberhentian Kereta Api

pemberhentian kereta api museum ambarawa

Dari gedung arsip, silahkan jalan lurus untuk sampai ke area miniatur pemberhentian kereta di berbagai daerah.

Tempat pemberhentiannya berupa bangunan-bangunan kayu yang sudah tampak usang dan disusun berjajar. Beberapa diantaranya ada Cicayur, Cikoya dan Tekaran. Hayo ada yang tahu nggak letaknya di kota mana saja?

Di masing-masing miniatur dilengkapi dengan penjelasan singkat kok. Meskipun menurut saya terlalu singkat.

Selain itu, karena dilengkapi tempat duduk jadi biasanya digunakan pengunjung untuk beristirahat sejenak.

Taman Sandi dengan Aneka Alat Persandian

Sudah beristirahat? Coba deh cari Taman Sandi yang ada di sekitar tempat pemberhentian kereta. Ya! Letaknya ada diantara toilet dan area pemberhentian kereta.

Taman ini berisi berbagai alat persandian dan alat bantu dalam pengoperasian kereta lainnya, yang sekarang sudah tidak bisa kita temukan lagi di stasiun modern.

Sayangnya, di taman ini tidak ada cukup informasi yang bisa didapatkan.

Gedung Tunggu dan Pameran Kereta

Ini dia! Lokasi utama pusat Het Station Willem-1 atau Museum Kereta Api Ambarawa, Gedung Tunggu dan Pameran Kereta.

Sekilas dari luar tidak ada banyak perbedaan dengan ruang tunggu stasiun modern. Hanya saja ada beberapa peralatan kuno, seperti tempat pembelian tiket dengan bentuk heksagonal yang unik dan alat pencetak tiket yang tampak seperti mesin percetakan majalah atau koran.

Di dalam gedung ada beberapa ruangan seperti ruang VVIP yang dahulu digunakan sebagai cafe tempat tunggu kereta khusus para noni Belanda, ruang kepala KA, dan ruang kesehatan yang dahulu difungsikan sebagai ruang arsip.

Satu hal yang menarik bagi saya adalah adanya ruang menyusui. Sehingga destinasi yang satu ini baby friendly. Silahkan bagi busui untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin. Tidak perlu lagi bingung cari tempat menyusui.

Oh iya, disamping gedung ada sekitar 4-5 kereta uap dan diesel yang ditata di setiap rel. Kalau mau berfoto harap sabar ya karena pasti ramai. Selain itu tetaplah berhati-hati, bagaimanapun keretanya sudah lebih tua dari kita dan beberapa bagian lantainya sudah berlubang.

Menambah Wawasan di Kereta Pustaka

Dari beberapa kereta yang dipamerkan ada satu kereta dengan desain spesial. Kereta yang bagian dindingnya berhias lukisan cantik ini adalah Kereta Pustaka, kereta yang difungsikan sebagai perpustakaan.

Silahkan lepas alas kaki dan masuk ke dalam.

Di dalamnya ada berbagai macam bahan bacaan, mulai dari buku sejarah kereta api dan stasiun, novel, buku sains, sampai majalah traveling.

Ini tempat yang paling saya suka. Apalagi ada televisi yang menayangkan penjelasan tentang Museum Kereta Api Ambarawa. Jadi, bagi yang malas membaca keterangan di masing-masing lokasi atau masih kurang mendapatkan cukup informasi dari papan keterangan, simak saja penjelasan dalam tayangan di Kereta Pustaka ini.

Melintasi Round Table Menuju Dipo Lokomotif

Kalau sudah puas membaca buku favorit di Kereta Pustaka, jangan lupa mampir sebentar ke Round Table. Letaknya tidak jauh dari taman yang bertuliskan Iambarawa.

Round Table berupa rel yang di bawahnya ada lubang bulat. Menurut penjelasan yang saya dapat si Round Table ini di bawahnya diisi air dan bisa memutar rel di atasnya.

Entahlah, saya sendiri belum pernah melihat yang seperti ini. Hehe

Dari Round Table langsung saja lurus sambil berjalan di atas rel menuju Dipo Lokomotif. Di sini ada beberapa kereta juga lho, diantaranya kereta wisata. Bahkan ada juga alat-alat yang digunakan khusus untuk urusan lokomotif.

Saat sore kamu bisa melihat petugas membersihkan kereta kereta di Dipo Lokomotif. Terutama kereta yang baru saja dioperasikan sebagai kereta wisata.

Ngomong-ngomong kereta wisata, jadwal regulernya setiap Sabtu dan Minggu dengan tiket seharga Rp 50.000/penumpang. Anak umur 3 tahun sudah dibelikan tiket ya.

Di luar jadwal reguler, kereta wisata bisa disewa dengan harga beragam, sesuai dengan kapasitas penumpang.

Kereta wisata juga dibagi menjadi dua tujuan, yakni St. Tuntang dengan kereta diesel dan St. Bedono dengan kereta uap.

Kenapa berbeda? Karena rel ke St. Bedono ini terdiri dari tiga bagian rel yang ditengahnya berupa rel bergerigi. Rel semacam ini hanya ada 3 di dunia, yaitu di India, Swiss dan Indonesia. Salah satunya rel dari Het Station Ambara menuju St. Bedono.

Sayangnya, untuk minggu ini tiket sudah habis terjual. Jadi, weekend ini saya gagal naik kereta wisata.

Ada yang pernah naik? Cerita dong bagaimana keseruannya. Bagi yang belum pernah mencoba seperti saya, silahkan langsung ke Museum Kereta Api Ambarawa dan beli tiketnya. Ajak rombongan sekalian supaya bisa booking ya. Hihi

(Visited 20 times, 1 visits today)

Leave a Reply