Menanti Golden Sunrise: Camping di Telaga Cebong

Menanti Golden Sunrise: Camping di Telaga Cebong

Bagi yang pernah atau sering mencari informasi seputar camping di Bukit Sikunir alias Gunung Sikunir, sudah nggak asing dong tentunya dengan Telaga Cebong. Yap, telaga yang satu ini menjadi lokasi camping yang paling dekat dengan view point golden sunrise Gunung Sikunir. Nah, saya punya pengalaman unik, seru, kocak, sekaligus gemes loh selama memutuskan untuk camping di telaga ini demi bisa menyaksikan golden sunrise.

 

Datangnya Terlalu Sore, Telaga Cebong Serasa Milik Pribadi

telaga cebong

Ya, awalnya saya itu berencana untuk mampir terlebih dahulu ke Dieng Plateau Theater sebelum menuju ke Telaga Cebong. Tapi sayangnya, salah ambil arah dan sampailah di Desa Sembungan. Karena kepalang tanggung sudah bayar biaya masuk Bukit Sikunir sebesar 10 ribu rupiah, saya malas putar balik dan nekat saja langsung menuju ke Telaga Cebong.

Sampai di telaga, sempat melihat sekelompok anak usia SMA yang saya pikir sedang sibuk akan mendirikan tenda. Belakangan saya tahu ternyata mereka bukan sedang sibuk mendirikan, tetapi sibuk mengemas tenda dan perlengkapan camping lainnya karena akan segera pulang. Duh… yang tadinya ada teman akhirnya semakin berkurang. Hanya terlihat dua tenda di tepi telaga.

Saya dan partner yang sedang berdiri menikmati sinar matahari di pinggir telaga di hampiri pria paruh baya yang menawarkan tenda. Tenda yang beliau tawarkan merupakan tenda merah yang saya lihat menghadap ke telaga. Tenda itu rencananya akan segera dibongkar kalau memang tidak ada yang menyewanya. Sambil nego, kami sempat ngobrol ngalor ngidul dengan si bapak. Lumayan menghimpun lebih banyak lagi informasi.

“Kemarin di sini yang dari Semarang sampai 40 tenda,” kata si bapak setelah mengetahui bahwa saya dan partner berasal dari Semarang. Kemarin yang dimaksud tentu saja long weekend pada tanggal 13-15 April 2018.

“Lumayan ramai kalau Sabtu, Minggu, dan hari libur. Tahun baru malah bisa lebih ramai, bisa sampai ribuan yang camping di sini,” lanjut si bapak sambil menawarkan kami untuk melihat-lihat tendanya.

Tenda yang ditawarkan si bapak merupakan tenda kapasitas 4 orang dengan 1 matras. Biaya sewa yang ditawarkan sendiri sebesar 110 ribu rupiah, 100 ribu untuk sewa tenda dan matras, sementara 10 ribu sisanya adalah untuk membayar biaya sewa lahan camping.

Karena menyadari suasana sekitar telaga yang sepi pengunjung, khususnya yang mendirikan tenda, kami pun lebih banyak bertanya kepada si bapak mengenai aktivitas camping di lokasi Telaga Cebong. Menurut penuturan beliau, biasanya mulai banyak yang mendirikan tenda sejak jam 4 sore sampai menjelang tengah malam.

Cuaca yang terasa cukup terik, padahal sudah menjelang sore dan berada di ketinggian, membuat saya mengiyakan tawaran dari si bapak. Tentunya dengan disambung obrolan-obrolan lainnya yang lumayan mengisi suasana camping yang tanpa teman.

Sejujurnya suasana telaga masih sangat lengang, hanya ada dua warung yang buka, dan beberapa pemancing. Bahkan sempat gerimis, meskipun akhirnya langit berubah begitu cantik dengan hiasan milky way yang menggoda mata saya.

Cuaca menjelang tengah malam sampai menjelang subuh suhu udara di sekitar Telaga Cebong ini sangat dingin. Maka dari itu sangat disarankan untuk membawa pakaian yang berlapis selama camping.

Kalau malas menginap, sebenarnya di desa sekitar Telaga Cebong juga banyak homestay. Harganya sendiri sangat beragam, mulai dari Rp 200.000-an per malam sampai Rp 300.000-an per malam.

 

Warung Baru Mulai Buka Jam 1 Pagi

telaga cebong

Saat tiba hanya ada 1 warung yang sudah buka di sekitar lokasi camping. Menu makanan yang ada juga hanya mie instan. Mau tidak mau demi mengisi perut yang kosong, kami memesan mie goreng pakai telur, dengan minum susu jahe hangat. Di warung ini juga kami sempat melihat langsung bagaimana proses pembuatan Carica homemade. Sayangnya, saya yang berencana beli untuk dibawa pulang malah lupa saking kelewat bahagia bisa melihat golden sunrise.

Nah, di sini saya cuma mau bilang, bagi yang baru pertama kali berencana camping di Telaga Cebong, jangan lupa bawa bekal makanan dan minuman. Ya paling tidak bawa camilan untuk mengganjal perut.

Menjelang tengah malam baru menyusul 1 warung lainnya yang buka tidak jauh dari tenda. Di warung ini kami cuma menikmati dua cup pop mie. Oh iya, di warung ini juga menjual kayu untuk keperluan api anggun lho. Harganya 10 ribu rupiah per ikat (ukuran 1 api unggun kecil).

“Kalau mau bikin api unggun sih sebaiknya jam 9 ke atas. Yang pertama untuk antisipasi hujan, yang kedua karena cuacanya di jam-jam itu sudah mulai dingin,” jelas bapak pemilik warung saat kami bertanya-tanya mengenai kayu api unggun yang beliau jual.

Setelah satu per satu kemudian ada 6 tenda lain yang menyusul didirikan, sekitar jam 10 malam sampai jam 1 pagi. Sejumlah warung lainnya pun mulai satu per satu terlihat dibuka. Dari sejumlah warung yang ada, kami memilih hanya menikmati dua gelas energen ditambah tahu kemul. Harga tahu dan tempe kemulnya sendiri tergolong lumayan kok, hanya Rp 1.000/ biji. Makanan dan minuman lainnya juga menurut saya masih jauh bersahabat dibandingkan dengan Semarang. Tidak peduli kawasan Telaga Cebong ini termasuk lokasi wisata.

 

Bersiap Mendaki Gunung Sikunir Menikmati Golden Sunrise

telaga cebong

Jam 3 pagi, semua penghuni tenda di sepanjang tepi Telaga Cebong keluar dan bersiap untuk segera mendaki Gunung Sikunir demi menyaksikan golden sunrise terbaik se-Asia Tenggara. Ternyata bukan hanya kami para penghuni tenda tepi telaga, terlihat sudah ada banyak kendaraan pribadi yang parkir di kawasan Bukit Sikunir.

Selain itu, ada juga rombongan SMA yang sepertinya berasal dari sekitar Jawa Barat. Jumlahnya lebih dari 5 bus ukuran kecil, atau paling tidak lebih dari 100 siswa siswi. Semuanya berbaris rapi dan bersiap untuk mendaki Gunung Sikunir bersama-sama.

  • 2
    Shares

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

error: Content is protected !!