Nonton Barongsai Dalam Perayaan Imlek 2570 di Klenteng Sam Poo Kong

Perayaan Imlek memang sudah berlalu, tapi saya punya cerita yang belum sempat saya bagikan nih melalui blog ini. Dibuang sayang kan ya.

Nah, kalau berbicara soal Imlek, apa sih yang terlintas di kepala kalian saat mendengarnya?

Angpao, Lampion, Kelenteng … dan gak lupa hari libur. Ya, sebagian besar pekerja, mahasiswa, ataupun anak sekolahan pasti menikmati yang namanya libur saat hari Imlek tiba. Termasuk saya. Meskipun saya freelancer.

Karena Imlek dan kebetulan libur, sangat sayang dilewatkan kalau saya tidak ikut menyaksikan kemeriahan perayaan Imlek kan. Apalagi di Semarang ada salah satu lokasi yang termasuk legendaris dalam urusan perayaan ini. Di mana lagi kalau bukan Klenteng Sam Poo Kong.

Dipenuhi Lautan Manusia, Beli Tiket Antriannya Sampai Mengular

Bukan hal yang baru lagi kalau dalam setiap acara, perayaan, festival, atau yang semacamnya selalu dipenuhi dengan lautan manusia. Itu juga yang saya temui ketika untuk pertama kalinya ikut menyaksikan kemeriahan perayaan Imlek di Klenteng Sam Poo Kong.

Untuk bisa mendapatkan tiket saja antriannya mengular panjang sampai ke tempat parkir. Bahkan pembelian tiket bukan hanya dilayani melalui loket, tetapi sengaja disediakan satu pembelian tiket dadakan di sebelah loket.

Kalau biasanya tiket masuk tempat wisata itu punya keunikan tersendiri dari segi desain, entah kenapa saya tidak menemukan itu dari tiket Klenteng Sam Poo Kong. Setelah menyelesaikan pembayaran, saya mendapatkan selembar struk dan uang kembalian. Hanya itu!

Harga tiket masuk area wisata non terusan (tanpa masuk ke area sembahyang) sekitar Rp 15.000 /orang untuk pengunjung dewasa yang bertatus WNI.

Struk yang saya dapatkan itu kemudian ditunjukkan pada petugas yang berjaga di pintu masuk, disobek bagian tengahnya dan diserahkan kembali pada saya.

Dan taraaaa… di hadapan saya ternyata ada lebih banyak lagi manusia yang sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.

Ada yang sedang berfoto ria di bawah lampion di sekitar pintu masuk, ada yang sedang berburu makanan di stan kuliner yang tersedia, dan sisanya berebut untuk lebih cepat sampai di depan panggung utama.

Pertunjukkan Barongsai Diiringi Gerimis Manis Bulan Februari

imlek sam poo kong

Sampai di depan panggung utama, diantara ratusan manusia, saya akhirnya berkesempatan untuk melihat langsung bagaimana serunya pertunjukkan barongsai di Klenteng Sam Poo Kong.

Sayangnya, saya tidak bisa leluasa mengambil foto para barongsai yang sedang beraksi di atas panggung. Bukan hanya karena saya berada di tengah-tengah kerumunan penonton, tetapi juga karena tertutupi oleh adik-adik manis yang duduk santai di atas pagar pembatas.

Tapi bukan saya dong ya kalau tidak mencari kesempatan dalam kesempitan. Ya, di sela-sela kesempitan, badan mungil saya selalu bergerak mencari cela untuk bisa mengambil foto sambil berpindah-pindah tempat.

Mulai dari berjinjit di belakang bapak-bapak tinggi yang sedang merekam acara menggunakan Action cam dan monopod panjangnya, sampai menyelipkan kamera poket di bawah kaki adik manis yang sedang duduk di atas pagar. Semua demi bisa mendapatkan foto-foto ciamik. Meskipun tidak sepenuhnya berhasil.

O ya, kira-kira ada 5 barongsai yang beraksi siang itu. Masing-masing barongsai merah, oranye, cokelat, biru, dan putih. Saya tidak yakin betul berapa lama mereka beraksi di tengah-tengah gerimis manja saat itu. Karena hanya beberapa menit setelah saya berhasil mendapatkan foto mereka, mereka ternyata mengucapkan salam perpisahan.

Setelah penampilan barongsai, selanjutnya secara bergantian disusul oleh penampilan Ondel Ondel dan Reog Ponorogo. Untuk yang ini saya tidak terlalu memperhatikan karena saya sedang berkeliling area Klenteng Sam Poo Kong.

Say Hi ke patung Laksamana Zheng He, Sang Duta Perdamaian

patung cheng ho sam poo kong

Laksamana Zheng He atau yang lebih dikenal sebagai Cheng Ho adalah pengelana muslim Tiongkok yang konon secara tidak sengaja mendarat di Simongan ketika melintasi laut Jawa. Keputusannya untuk mendarat tidak lain karena juru mudi kapalnya jatuh sakit.

Nah, karena harus berada di Semarang dalam waktu yang cukup lama, Laksamana Cheng Ho bersama dengan pasukannya menggunakan sebuah ceruk sebagai tempat beristirahat sekaligus tempatnya bersemedi. Tempat itulah yang kemudian dikenal sebagai Klenteng Sam Poo Kong (Gedung Batu).

Gedung Batu atau Klenteng Sam Poo Tay Djien ini merupakan kelenteng terbesar dan kelenteng utama yang digunakan untuk sembahyang di area Sam Poo Kong. Kalau kalian bingung, letaknya persis berada di belakang patung Laksamana Cheng Ho.

Begitu masuk ke area wisata Sam Poo Kong kalian pasti bisa langsung melihatnya kok.

Patungnya lumayan tinggi, menurut catatan yang bisa kalian cek di website Sam Poo Kong tingginya mencapai 12,7 meter. Kalau dilihat dari jauh warnanya tampak keemasan, tetapi ketika didekati warnanya akan tampak seperti tembaga.

Di bagian bawah patung terdapat autobiografi singkat mengenai sang Laksamana.  

Kalau orang bilang saat berada di tempat saya berdiri mengambil foto patung ini suasananya sangat terasa seperti sedang ada di Tiongkok, maka yang saya rasakan seperti sedang berada di tengah riuhnya warga Tiongkok yang sedang ramai-ramai mudik. Padat!

Gerbang Asimetris, Spot Foto yang Lebih Indah Dipandang dari Luar

gerbang sam poo kong

Ketika berdiri di tengah-tengah area wisata Sam Poo Kong atau di sekitar patung Laksamana Cheng Ho, pasti kalian akan bisa menjumpai sebuah gerbang besar yang tertutup rapat.

Gerbang ini adalah salah satu spot foto ikonik para pengunjung Klenteng Sam Poo Kong.

Menurut kacamata saya, gerbang ini memang sangat khas seperti bangunan Tiongkok pada umumnya. Gerbangnya sangat tinggi dan tampak begitu megah. Ditambah lagi dengan bagian atapnya yang seragam dengan atap bangunan kelenteng lainnya di Sam Poo Kong.

Jika dilihat dari dalam kesannya memang biasa saja, tetapi gerbang ini ternyata terlihat lebih megah dan indah kalau dilihat dari luar area wisata. Maksudnya adalah ketika berada di jalanan yang tepat berseberangan dengan gerbang ini.

Gak percaya? Silahkan dibuktikan sendiri.

Area Sembahyang Sam Poo Kong, Klenteng Dewa Bumi – Rumah Arwah Hoo Ping

sam poo kong

Selain Tempat Pemujaan Sam Poo Kong atau Klenteng Sam Po Tay Djien, ada sejumlah tempat pemujaan lain yang letaknya saling berjejeran. Mulai dari Tempat Pemujaan Dewa Bumi, Tempat Pemujaan Kong Hu Cu, sampai Rumah Arwah Hoo Ping.

Nah, bagi kalian yang berniat untuk melihat-lihat lebih jauh tempat-tempat pemujaan ini diharuskan untuk membayar tiket khusus di loket yang sudah disediakan (lihat papan area wisata). Kecuali jika kalian sudah membeli tiket terusan ketika memasuki area wisata Sam Poo Kong.

Saya tidak bisa bercerita banyak tentang masing-masing kelenteng di area sembahyang, karena saya memang tidak masuk ke area ini. Yang jelas, saat itu sedang banyak yang sembahyang di setiap kelenteng.

Lain kali akan saya ceritakan bagaimana masing-masing tempat pemujaan di Klenteng Sam Poo Kong, jika saya berkesempatan untuk kembali ke destinasi wisata yang satu ini.

Untuk cerita tentang perayaan Imlek di Klenteng Sam Poo Kong tahun ini saya sudahi dulu ya. Karena saya juga tidak mengikuti acaranya sampai selesai. Saya memutuskan untuk pulang saat penampilan tari-tarian baru dimulai, sebelum live musik dimulai pula tentunya.

(Visited 18 times, 1 visits today)

Leave a Reply