Kawah Sikidang: Cerita Telur Rebus, Burung Hantu, dan Ayunan Romantis

kawah sikidang

Kawah Sikidang menjadi tujuan saya setelah mampir ke Candi Arjuna, sebelum melanjutkan perjalanan ke Bukit Sikunir. Ya, kawah yang satu ini memang menjadi salah satu kawah yang sangat populer di kawasan dataran tinggi Dieng. Lebih menariknya lagi bagi saya adalah karena tiket masuknya sudah 1 paket dengan Kompleks Percandian Arjuna (baca: Candi Arjuna, Awalnya Cuma Reruntuhan Tapi kok Bikin Pegel?).

 

Kawah di Dataran Tinggi Dieng yang Sangat Mudah Diakses

kawah sikidang

 

 

Kenapa saya lebih memilih untuk menyambangi Kawah Sikidang dibandingkan kawah lainnya yang ada di Dieng? Sebenarnya bukan hanya karena tiketnya sudah include karcis masuk Candi Arjuna, tetapi juga karena kawah ini jauh lebih mudah di akses dibandingkan dengan kawah yang lainnya.

Betul sekali, alasannya karena Kawah Sikidang memang berada di wilayah yang cenderung datar. Selain itu, akses menuju kawah yang masih menunjukkan aktivitas vulkanik ini juga berdekatan dengan sejumlah destinasi wisata Dieng. Oh iya, bagi kalian yang memilih untuk backpacker atau solo traveling, kalian bisa lho naik kendaraan umum Wonosobo-Dieng untuk berkunjung ke Kawah Sikidang.

 

Burung Hantu Kawah Sikidang: Foto Sepuasnya Jangan Lupa Bayar!

 

Kalau boleh disebut ikonik dan legendaris, saya tentu akan menggunakan kata-kata itu untuk menggambarkan para burung hantu yang menghuni Kawah Sikidang. Sejumlah burung hantu berukuran cukup besar yang selalu memasang tatapan tajam saat diajak berfoto.

“Foto-foto dengan burung hantunya, mbak. Cuma xxx rupiah untuk per satu foto.”

Kurang lebih seperti itu tawaran dari mas-mas yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Saya yang sedang fokus memotret dua burung hantu di hadapan mata sampai tidak mendengar cukup jelas berapa xxx rupiah yang ditawarkan. Sayang sekali, saya kan tipe-tipe traveler yang pelit mengeluarkan budget untuk sekadar berfoto. hehe

Meskipun saya mengabaikan tawaran si mas misterius, saya tetap saja pede berselfie dengan salah satu burung hantu. Tentunya dari jarak yang agak berjauhan. Bukan karena takut tiba-tiba diminta membayar, tetapi lebih karena si burung hantu melotot tajam saat didekati (bilang aja kalau penakut ya kan wkwk).

Si burung hantu yang saya ajak berfoto ini juga super sensitif dengan suara kamera. Saat saya foto menggunakan smartphone, ia hanya memalingkan wajah. Tetapi saat difoto dengan kamera poket langsung pasang tatapan tajam, tepatnya setelah mendengar shutter kamera saya berbunyi. Duh…

Sementara saya hanya berselfie dengan jarak minimal 30 cm, tidak jauh dari tempat saya berdiri ada 3 orang wisatawan asing yang sedang asyik bergonta-ganti pose berfoto bersama dua burung hantu lainnya.

 

Telur Rebus Kawah Sikidang, Tanpa ‘Telur Rebus’

kawah sikidang

Meninggalkan si burung hantu yang hobi memasang tatapan tajam, saya melangkah melewati beberapa penjual serbuk belerang. Tujuan utama ya menuju ke kolam kawah yang ada di dekat bukit. Tetapi mata saya justru tergoda dengan kawah kecil bertuliskan ‘Telur Rebus Kawah Sikidang”.

Saat saya dan partner saya mendekat, jangan tanya apa yang pertama kali partner saya katakan. Ya, kata-kata itu tidak lain dan tidak bukan adalah, “Mana telur rebusnya?”

Sebenarnya bukan pertanyaan yang sepenuhnya salah. Tetapi sayangnya telur dan kentang yang bisa direbus sedang tidak dijajakan sebagaimana biasanya. Tempat penjualan telur terlihat kosong, tanpa adanya jejak-jejak penghuni. Padahal telur dan kentang yang bisa direbus langsung di atas letupan kawah kecil ini adalah salah satu makanan khas Kawah Sikidang lho. Sayang sekali saya gagal untuk bisa mencicipinya.

 

Lumpur Panas Berselimut Asap Putih Pekat yang Hobi Melompat-lompat

kawah sikidang

 

Kawah Sikidang merupakan kawah yang terbentuk dari letusan gunung berapi yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Hingga saat saya berkunjung pun kawah ini masih dalam kondisi aktif, sehingga saya berkesempatan untuk melihat adanya lumpur vulkanik yang meletup-letup disertai dengan gas beracun yang mengepul membentuk asap putih pekat. Inilah kenapa ada himbauan untuk mengenakan masker apabila ingin berfoto atau berkeliling di area kawah.

Oh iya, pada waktu-waktu tertentu, rata-rata setiap 4 tahun sekali, kolam Kawah Sikidang ini akan berpindah lho. Seolah-olah isi kawah melompat dalam satu area kawasan Kawah Sikidang, seperti halnya karakter Kijang (disebut Kidang dalam bahasa Jawa Kuno) yang hobi melompat-lompat saat berpindah tempat. Nah, hal itu pula yang menjadi sejarah dari asal usul nama kawah yang sangat fenomenal ini.

Berada di sekitar kolam kawah, jangan lupa perhatikan tanda peringatannya ya. Dilarang melompati pembatas! Kalau nekat ya palingan jadi daging rebus di dalam kawah. Mau? Bagi yang merokok juga jangan melempar puntung rokok atau benda berapi lainnya, karena itu berpotensi memicu ledakan.

 

Mendaki Bukit Tandus vs  Menikmati Sensasi Ayunan Romantis

kawah sikidang

Bukan hanya bisa menikmati keindahan letupan aktivitas vulkanik Kawah Sikidang. Berada di kawah fenomenal ini sebenarnya juga bisa berfoto di atas bukit tandus berwarna putih kekuningan (warna tanah di hampir seluruh area kawah). Tetapi saya hanya memandang mereka yang berfoto di atas bukit karena malas mendaki melawan terik. Ayunan di Kawah Sikidang juga bukan hanya yang saya duduki. Ada beberapa ayunan lainnya yang letaknya mengelilingi kolam kawah.

Sementara beberapa wisatawan lokal dan manca negara berebut tempat berfoto ala misterius di atas bukit tandus, saya menikmati sensasi ayunan romantis tidak jauh dari kolam kawah. Di samping ayunan yang saya duduki bersama si partner, ada sebuah sumber air panas yang mengandung sulfur dan belerang. Sumber air tersebut berupa pancuran yang bermanfaat untuk mengobati berbagai keluhan kesehatan kulit, seperti misalnya gatal-gatal.

Airnya boleh dibawa pulang? Tentu saja boleh. Tetapi jangan lupa untuk menyisihkan beberapa lembar rupiah apabila berniat membawa pulang airnya ya.

 

Wah, saya jadi kangen nih pengen kembali lagi ke Kawah Sikidang. Ada yang punya rencana berkunjung ke Dieng dalam waktu dekat ini? Jangan lupa mampir dan menyapa si burung hantu legendaris Kawah Sikidang ya.

  • 7
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *