Jalan-jalan Tapi Nemu Anak Ular Laut di Pantai Sundak

Pantai Sundak memang merupakan tujuan utama saya dalam perjalanan ke Gunung Kidul, Yogyakarta, beberapa waktu lalu. Salah satu alasannya bukan karena ingin menyambangi pantainya. Ya, karena penginapan yang saya booking yakni Omah Sundak, berada di pantai populer yang satu ini.

 

Tapi, sejujurnya sih meskipun penginapan saya berada di Pantai Sundak, pantai ini justru yang paling jarang saya nikmati keindahannya. Pastinya karena lebih sering ngider ke pantai-pantai tetangganya, seperti Pantai Ngandong, Pantai Sadranan, Pantai Pok Tunggal (baca: Nyore di Pantai Pok Tunggal Tanpa Pohon Ikonik), hingga Pantai Siung.

 

Menikmati Ikan Cakalan Goreng Sambil Menunggu Waktu Check-In

ikan cakalan goreng Pantai Sundak
Seporsi ikan Cakalan goreng dari warung Pantai Sundak

Seperti biasa, saya ini tipe orang yang selalu terlalu lebih awal tiba di tujuan. Meskipun tahu akan terlalu lama menunggu waktu check in yang baru bisa dilakukan sekitar jam 2, sementara saya sudah sampai sekitar jam 9, tetap saja saya tidak berniat untuk mampir terlebih daulu ke sejumlah pantai yang sebelumnya saya lewati.

 

Berhubung kamar yang saya inginkan di Omah Sundak (baca: Sensasi Menginap di Cozy Room Omah Sundak with Sunrise View) masih ada penghuninya dan pengelolanya bilang baru bisa check in jam 12, akhirnya tidak ada pilihan lain selain nongkrong di gazebo Pantai Sundak. Lumayan bisa sambil mengisi perut yang sudah keroncongan minta jatah makan siang.

 

Kata orang kan belum lengkap rasanya liburan ke pantai tanpa makan seafood, maka dari itu menu makan siang yang saya pesan kali ini tidak lain adalah ikan Cakalan goreng. Haha padahal sih pilihan menunya ada cumi, gurita, dan kepiting. Tapi entah kenapa saya tiba-tiba jadi ingin makan ikan goreng.

 

Rupa-rupanya menu yang saya pilih memang cocok disantap di siang terik saat itu. Tahu kenapa? Karena ikan Cakalan goreng ini dihidangkan bersama sambal korek yang warnanya merah membara. Sayangnya, lalapan yang menemani hanya irisan kol dan mentimun. Sangat kurang bagi pecinta lalapan seperti saya. Sementara ikannya berukuran cukup besar dan digoreng tidak terlalu kering tetapi tetap renyah digigit.

 

Bisa dibayangkan menyuapkan nasi, secuil  daging ikan goreng, dan sambal ke dalam mulut yang sudah kepedasan ditemani pemandangan riuhnya pengunjung Pantai Sundak? Bukan pengunjung yang juga sedang makan, melainkan yang sedang  berebut menangkap ikan hias di pinggiran pantai.

 

Di tempat makan lesehan beralas kayu berukuran tidak lebih dari 1×0,5 meter itulah saya sedang menikmati sambal korek nan pedas dengan pemandangan pantai yang riuh. Kenyang perut, kenyang mata (dapat vitamin sea), dan kenyang hati karena happy.

 

Ikutan Berburu Ikan Hias Malah Bertemu si Anak Ular Laut

Pantai Sundak
pengunjung bermain air dan berburu ikan

Tepat jam 12 akhirnya saya dipersilahkan untuk memasuki kamar yang berada tepat di sebelah balkon, dengan pemandangan ke Pantai Sundak dan laut lepas. Tapi sayangnya kenyang membuat saya mengantuk hingga akhirnya memutuskan tidur, setelah sebelumnya sempat leyeh-leyeh sebentar di balkon  Omah Sundak.

 

Bangun saat hari sudah sore tiba-tiba saya jadi ingin ikut-ikutan berburu ikan hias di pinggiran Pantai Sundak. Tentunya setelah berganti pakaian, berbekal Nikon  Coolpix W100 dan Xiaomi Redmi 4X kesayangan saya langsung meluncur menuruni tangga Omah Sundak, hingga sampailah ke pinggiran Pantai Sundak yang masih padat pengunjung. Maklum masih peak season karena libur panjang lebaran yang bersambung.

 

Nah nah nah, berburu ikan hias ini juga merupakan salah  satu aktivitas favorit nih di Pantai Sundak. Jadi bukan Cuma anak-anak saja, termasuk juga pengunjung yang usianya sudah berkepala-kepala. Dan saat itu saya adalah salah satunya.

Menyusuri pinggiran pantai yang dangkal dengan air jernih, ikan-ikan yang lalu lalang memang bisa terlihat jelas bermain-main di karang. Sejujurnya saya bukan ingin menangkap ikan-ikan itu, karena kan habitatnya memang  di laut, untuk apa pula saya menyulitkan hidupnya dengan membawanya pindah ke air tawar. Saya hanya mengambil video bagaimana lucunya mereka saat berenang-renang di antara  karang-karang.

 

Eh tapi sedang asyik mengintai ikan untuk saya video, tiba-tiba berjarak kurang dari 10 cm dari kaki saya ada dua makhluk kecil panjang dengan tubuh loreng-loreng. Setelah berjingkat menjauh, dua makhluk itu akhirnya juga masuk dalam dokumentasi video. Di mana setelah diamati dan disadari rupanya merupakan anak dari ulat laut. Duh berbahaya juga kan ya, soalnya banyak anak-anak loh di sekitar lokasi itu yang sedang berburu ikan.

 

Padahal, konon kalau ada satu titik ditemukan anak ular laut, maka ada kemungkinan bahwa induknya berada tidak jauh dari lokasi tersebut. Stay safe aja deh ya!

 

Melipir Sampai  Ke Ujung Pasir, kok Sampai Pantai Indrayanti

Pantai Sundak
pinggiran pantai dangkal, di ujung ada karang perbatasan dengan Pantai Indrayanti

FYI aja kalau saya nemu anak ular lautnya setelah berjalan lumayan jauh menyusuri bibir Pantai Sundak. Rupanya saat surut, melewati karang-karang di hadapan saya juga bisa sampai ke Pantai Indrayanti. Sayangnya sih waktu itu laut sudah mulai pasang, jadi tepi laut yang tadinya berupa area dangkal sudah mulai tergenang dan dikepung ombak. Bahkan pengunjung dari Pantai Indrayanti yang melipir sampai Pantai Sundak nggak bisa kembali ke asalnya lho. Hihi

 

Karena saya itu orangnya memang nyeleneh, alhasil saya keluar dari kawasan pantai, melewati sebuah penginapan dan sampailan ke jalan raya. Cukup berjalan melewati tiga warung, ternyata oh ternyata sudah sampai di Pantai Indrayanti. Padahal kalau saya keluar dari jalan masuk utama Pantai Sundak, jaraknya ke Pantai Indrayanti ini kurang lebih hampir mencapai 1 Km lho. Saya jadi berpikir-pikir seberapa jauh jarak yang sudah saya tempuh saat bermain-main di pinggiran pantai.

 

Yasudah kita lupakan saja seberapa misterius jarak antar pantai yang ada di jajaran pantai selatan. Yang jelas setelah itu saya lebih banyak mengabaikan Pantai Sundak. Hanya sempat mampir membeli cumi goreng dan ice cream rujak di malam harinya, serta mampir makan mie instan di warung yang sama di pagi terakhir menjelang pulang ke Semarang.

 

  • 2
    Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *