House of Sampoerna, Jejak Kesuksesan Sampoerna di Kota Pahlawan

House of Sampoerna, Jejak Kesuksesan Sampoerna di Kota Pahlawan

Kalau saya menyebutkan House of Sampoerna, apa yang pertama kali terlintas di pikiran kamu? Ya, tidak salah lagi. Rokok.

Meskipun saya tipe yang tidak mendukung perokok, saat berada di Surabaya saya tetap menyempatkan untuk berkunjung ke museum House of Sampoerna. Dan ya, banyak hal yang saya temukan di museum produksi rokok yang satu ini.

 

Dimulai dari mengenal pendiri Sampoerna hingga perjuangannya

House of Sampoerna
Replika Warung Pertama Pendiri Sampoerna

Masuk ke museum langsung disambut dengan pengenalan mengenai pendiri dari pabrik rokok Sampoerna beserta istri tercinta. Selain itu, masih di ruang paling depan juga tersaji berbagai replika barang-barang yang menjadi sejarah perjuangan dibalik suksesnya Sampoerna. Mulai dari sepasang sepeda tua, kebaya, meja kerja, seperangkat meja kursi yang di set ala ruang tamu, hiasan keramik hingga replika warung pertama milik pendiri Sampoerna.

Bukan hanya itu, masih di ruang yang sama saya juga bisa mencium langsung bau cengkeh dan tembakau dari berbagai wilayah di Indonesia. Ya, semuanya tertata rapi berjajaran dengan mesin giling bersejarah dan replika pengolahan tembakau.

 

Produksi rokok dari masa ke masa

House of Sampoerna
Bungkus rokok dalam bahasa Jerman

Meninggalkan ruang depan museum, di ruangan selanjutnya terpajang aneka macam barang dan bahan yang digunakan untuk memproduksi rokok dari masa ke masa.

Beberapa diantaranya seperti bahan baku yang digunakan sebagai bungkus rokok, alat cetak atau printing kuno, pajangan desain bungkus rokok dari bertahun-tahun yang lalu, alat penggiling tembakau hingga alat-alat yang umumnya hanya ada di dalam laboratorium.

Nah, disinilah saya baru tahu kalau ternyata untuk menyamakan ukuran rokok, untuk mengetahui ukurannya juga dilakukan menggunakan alat khusus. Selain ukuran, tekanan isap rokok juga diukur loh menggunakan alat khusus.

Di belakang berbagai peralatan laboratorium juga terdapat cengkeh dan tembakau dari berbagai daerah, sayangnya tersimpan rapi di dalam lemari kaca yang tidak bisa sembarangan disentuh.

Di ruangan kedua ini jugalah ada sepeda motor kuno dan warung “DKI Sam Soe” yang banyak berseliweran di sosial media.

 

Masuk ke tempat pengawasan produksi, No Photo & Video!

View this post on Instagram

Percayakah kamu kalau warga lokal itu tidak semuanya tahu dan mengenal tempat-tempat wisata yang ada di kotanya? Baik berangkat maupun pulang dari House of Sampoerna saya selalu mendapatkan pertanyaan "itu tempat apa ya mbak?" dari supir ojol yang mengantarkan saya. Bahkan salah satunya tidak begitu paham lokasi wisata hits yang satu ini. Padahal kalau dipikir-pikir HOS ini termasuk salah satu Most Visit di Surabaya. Ya, tapi kejadian seperti itu bukan hanya di Surabaya. Saat solo traveling ke Jogja saya juga sempat menemui kejadian serupa. Kenapa bisa terjadi? Perlu diingat, tidak semua orang berkesempatan untuk liburan atau sekadar jalan-jalan. Meskipun itu hanya di kotanya sendiri. Apalagi kalau itu berhubungan dengan tuntutan kebutuhan hidup. Istilahnya untuk cari makan aja susah, apalagi buat liburan. Jadi, bersyukurlah kalian yang bisa liburan, entah itu sering ataupun hanya saat hari libur dan cuti. Dan satu lagi, nggak perlu menggerutu kalau kebetulan warga yang kamu tanya nggak tahu dimana itu tempat wisata yang kamu tuju. Kenapa? Balik lagi deh baca caption panjang ini dari atas. #solotraveling #traveling #travelling #exploresurabaya #explore #surabaya #exploreindonesia #travelingpost #wonderlust #houseofsampoerna

A post shared by Reksita Wardani (@reksitawardani) on

Kalau di lantai 1 pure berisi museum, maka naik ke lantai 2 saya langsung dibawa ke atmosfer produksi rokok Sampoerna. Dari atas saya seolah sedang mengawasi para pekerja yang sibuk memproduksi rokok di ruangan bawah. Di depan saya dibatasi oleh kaca seluas mata memandang. Sayangnya, disini ada peringatan untuk tidak mengambil foto maupun video.

Kalau dilihat-lihat jumlah mesin produksi yang tampak dari lantai 2 ini tidak banyak, tapi salut juga kalau faktanya memang demikian tetapi mampu memproduksi demikian banyak rokok dari setiap tahunnya. Tahu sendiri kan Sampoerna ini super populer rokoknya.

 

Berkeliling sembari menanti waiting list Surabaya Heritage Track

View this post on Instagram

Bukan sengaja mumpung ada cermin, bukan! Tapi kebetulan karena objeknya memang berada di depan cermin. Otomatis saya yang memotret objeknya juga ikut muncul di cermin. Sekaleng burger ini diapit dua tembok. Jadi lumayan susah cari angle cantik yang lainnya. Satu arah ke ruangan berbentuk dapur dan arah lainnya menuju ke ruangan lain yang ukurannya cukup besar. Informasi apa yang bisa saya sampaikan dibalik foto ini. Nggak ada sih. Saya cuma tertarik saja melihat keunikan hasil karya yang satu ini. Siapa tau kamu yang melihat postingan ini jadi termotivasi untuk membuat bisnis burger yang dijual dalam kaleng kerupuk jadul gitu. 🤔 #galerihouseofsampoerna #exploresurabaya #explore #exploreindonesia #solotraveling #traveling #travelling #traveller

A post shared by Reksita Wardani (@reksitawardani) on

Keluar dari dalam museum, saya menyempatkan berkeliling sebentar sambil menunggu waiting list SHT (Surabaya Heritage Track). Ya, karena saat melakukan reservasi ke TIC ternyata kuota untuk jam 1 full dan saya perlu menunggu di waiting list.

Oke, di luar museum ada apa saja? Banyak sekali tapi setidaknya masih bisa disebutkan satu per satu. Diantaranya adalah cafe dan toko suvenir.

Ada juga gedung yang digunakan khusus sebagai galeri seni. Di dalamnya ini ada bermacam-macam lukisan maupun hasil karya lainnya. Untung saya nggak kaget loh saat masuk dan langsung disuguhi dengan karya seni berupa boneka “serem” begini. Ya meskipun nggak serem-serem banget kan.

Meskipun suasana di dalam galeri agak bikin bulu kuduk berdiri, terutama kalau sendirian. Banyak karya manis super kreatif dan out of the box yang benar-benar menggoda hati saya. Bagaimana? Menggemaskan bukan?

 

Minum Espresso di Siang Bolong, Makan Siang Bikin Kantong Kempes

House of Sampoerna
Pangan di dekat pintu masuk TANAMERA Cafe

Hal menggelikan sekaligus menyebalkan nyata saya alami saat detik-detik menunggu informasi kuota Surabaya Heritage Track. Bagaimana tidak, saking laparnya saya nekat masuk ke cafe yang ada di lingkungan House of Sampoerna.

Cafe bernama “TANAMERA” yang berada di dekat TIC ini rupanya menyajikan menu yang mayoritas merupakan menu western. Bukan hanya itu, harga dari masing-masing menu juga tidak ditampilkan dalam bentuk rupiah. Bagaimana saya nggak bingung coba. Dengan modal nekat dan kepala puyeng karena lapar saya akhirnya salah memilih menu, hati teriak Aceh Gayo tapi jari tiba-tiba menunjuk espresso. Parahnya otak baru loading setelah selesai membayar dan menuggu menu disiapkan. Ada yang bisa bayangin nggak menenggak pahitnya espresso di siang bolong dengan kondisi perut kosong.

Eh iya, ngomong ngomong masalah kopi. Menu minuman yang ada di cafe ini sejauh daftar menu yang saya dapat memang 99,9% kopi. Entah mata saya yang melewatkan menu lainnya atau memang tidak ada.

Sementara urusan makanan atau kudapan benar-benar bikin kepala saya makin lapar. Eh! Iya, saya yang ndeso nggak kenal sebagian besar menunya yang berasal bukan dari tanah Indonesia tercinta. Yang mampu saya kenali hanya Nasi Goreng Kampung dan Burger. Jadilah saya tiba-tiba ingin makan burger dan memesan Beef Burger.

Yes, pesanan sudah dibayar dan kantong saya seketika langsung menjerit. Saya menghabiskan kurang lebih 112 ribuan untuk makan siang kali ini. Maklum namanya juga traveler ngirit, uang yang jumlahnya bagi kalian mungkin tidak seberapa itu bagi saya sangat pemborosan. Kalau makan kuliner khas Malang bisa untuk 2 sampai 3 kali makan super kenyang.

Meskipun begitu saya nggak terlalu kecewa dengan rasa espresso dan burger yang dihidangkan. Saya nggak sanggup menghabiskan porsi burger yang termasuk big. Rasanya nggak terlalu lebay dan nggak bikin eneg. Dan yang paling saya suka adalah telurnya, lumer dan lembut di mulut.

 

Gagal Naik SHT, See You Next Traveling

View this post on Instagram

Ke Surabaya kalau cuma sehari doang itu sangat kurang. Percayalah. Apalagi belum kesampaian naik Surabaya Heritage Track dari House of Sampoerna ini. Sebenarnya masuk waiting list jam 13.00, tapi karena penuh kemudian jadi ke jam 15.00. Berhubung masih 2 jam menunggu saya putuskan untuk tidak jadi ikut tur. Ya, karena saya juga harus mempersingkat waktu. Kalau berniat mencoba tur dari #houseofsampoerna ini datanglah pagi-pagi sekali (museum buka jam 9.00) dan langsung lakukan reservasi di TIC. Kalau tidak maka tidak ada jaminan kamu beruntung mendapatkan kuota kursi SHT. Bingung TIC yang mana? Jangan malu tanya ke bapak-bapak satpam yang berjaga manis di beberapa titik HOS atau petugas museum. Tenang, mereka ramah dan baik kok. Dan tentunya akan dengan senang hati menunjukkan jalanmu biar tidak tersesat. Asalkan jangan tanya jalan menuju hatinya aja ya 🙊 #solotraveling #explore #exploresurabaya #wonderlust #sampoernaheritagetur #indonesia #wisatamuseum #traveling #traveller

A post shared by Reksita Wardani (@reksitawardani) on

Setelah menyelesaikan makan siang saya yang menguras isi dompet, saya kembali ke TIC untuk menanyakan kuota SHT yang akan segera diberangkatkan. Saat iu bus SHT sudah bersiap berangkat meninggalkan House of Sampoerna menuju lokasi-lokasi bersejarah di Surabaya. Sayangnya, menurut petugas TIC kuota SHT pada jam tersebut sudah full dan saya didaftarkan ke waiting list untuk tour yang berjalan pada jam 3 sore.

Meskipun hanya perlu menunggu kurang lebih dua jam lagi, saya memutuskan untuk menyerah. Hanya berharap semoga di lain kesempatan kalau saya memang berkesempatan ke Surabaya lagi bisa merasakan bagaimana keseruan berkeliling Surabaya bersama bus Surabaya Heritage Track.

Meninggalkan TIC, saya berjalan menuju gerbang masuk HOS sambil memesan ojek online melalui gadget kesayangan. Kali ini saya ingin langsung melanjutkan perjalanan ke Monumen Kapal Selam sambil menikmati tempat-tempat hits di sepanjang jalan Surabaya.

  • 1
    Share

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

error: Content is protected !!