Belajar Travel Writing dari “Travel Writer”: Part 2

 “Menulis bagi saya bukan hanya merangkai alfabet menjadi sebuah kata,

kalimat, paragraf, atau artikel. Menulis adalah cerminan cara berpikir kita.
Menulis adalah membangun landmark diri kamu pada sebuah media yang berbeda.
kalau menara Petronas menjadi landmark Malaysia dan Monas adalah landmark
Jakarta, tulisanmu adalah landmark yang kamu bangun tentang diri kamu sendiri.”
(Travel Writer, Yudasmoro, Memulai Travel Writing: 126-127)

Sebelumnya melalui Belajar Travel writing dari “Travel writer”: Part 1, saya lebih banyak menyinggung mengenai profesi travel writer dan pandangan mengenai travel writing. Melalui part 2 ini, saya lebih banyak menggali mengenai informasi memulai menulis travel writing seperti yang diuraikan oleh om Yudasmoro dalam buku ‘Travel Writer’.

Memulai Penulisan

Dalam memulai sebuah artikel, penulis menyarankan bahwa pikiranmu harus santai, tidak perlu beban pikiran, dan tidak perlu terburu-buru. Jika kamu masih tetap merasa bingung, bisa membaca majalah travel untuk menemukan lebih banyak inspirasi.

Menentukan Judul

Judul ibaratnya bungkus dari sebuah produk. Kamu bisa menentukan judul saat sebelum menulis atau setelah selesai menulis. Dalam menentukan judul artikel travel, perlu memperhatikan beberapa hal seperti:

  • Hindari penulisan judul yang sedang tren beredar di jejaring sosial. Buatlah judul yang simple tetapi mampu mengungkapkan isi artikelmu.
  • Judul dalam bahasa Inggris sah dipakai meskipun artikel yang kamu buat seluruhnya dalam bahasa Indonesia.

Membuat Bagian Pembuka (Lead)

Lead pada dasarnya mengandung dua unsur, yaitu angle (sudut pandang) dan materi. Adapun angle tulisan berfungsi untuk menentukan ke mana arah tulisan sesuai dengan materi yang ada. Biasanya lead menceritakan mengenai kisah pendahuluan dari isi artikel.

Jika tugas judul adalah menarik perhatian pembaca, maka lead bertugas untuk memastikan agar pembaca tetap membaca artikel tersebut hingga selesai. Untuk pembentukan lead sendiri sangat beragam, bisa berupa kutipan, informasi, imajinasi, mood, atau pertanyaan.

Ditulis Dengan Kisah yang Runut dan Menyisipkan Humor

Tulis cerita secara urut dan teratur, jangan melompat-lompat. Ceritakan saja hal-hal yang perlu, secara urut dan teratur. Seain itu, dalam artikel travel juga bisa disisipkan humor. Menyisipkan humor ke dalam travel writing menurut om Yudasmoro bisa didapatkan dari banyak hal. Contohnya seperti dari kejadian lucu, atau kekacauan karena mengalami jet lag.

Menulis Artikel Dengan Data yang Akurat

Hal tersulit di dalam travel writing adalah meramu semua data yaang valid dan kompleks menjadi sebuah tulisan yang bisa dibaca oleh semua kalangan. Tanpa segudang data yang akurat dan hanya mengandalkan kata-kata yang diperpanjang dan diulang, tulisan kamu tidak lebih dari sebuah karya prematur.

Data yang digunakan dalam penulisan artikel travel sendiri bisa didapat dari wawancara, pengamatan langsung, dan literatur.

Menyisipkan Imajinasi dan Wawasan

Sisipan wawasan yang dikemas dalam imajinasi yang lain juga bisa menjadi bahan dalam memperkaya tulisan. Apa pun yang ada di sekitarmu dapat kamu jadikan tokoh dalam kisah perjalanan. Coba pejamkan mata sejenak saat menulis, bayangkan ulang apa yang kamu lihat, alami, dan rasakan saat-saat kamu melakukan perjalanan itu.

Mengakhiri Tulisan

Secara garis besar, ada beberapa macam ending yang digunakan dalam tulisan travel, yaitu:

  • Summary (ringkasan); ending yang mengulang isi dari semua artikel yang ditulis.
  •  Question ending.
  •  Ending yang menggantung.
  • Call baack ending; ending yang mengulang bagian lead.

 

buku travel writer

Membuat Artikel Panduan (Travel Guide)

Salah satu jenis artikel travel yang populer adalah travel guide atau tulisan mengenai panduan yang berhubungan dengan travel. Biasanya panduan berisi mengenai beberapa informasi terkait informasi transportasi (how to get there), informasi penginapan (where to stay), rekomendasi tempat makan (where to eat), waktu yang baik untuk ke lokasi (when to go), dan apa saja yang bisa dilakukan (what to do).

Secara umum, travel guide sebetulnya memberikan kemudahan untuk mendapatkan informasi tentang daerah yang akan kita tuju. Akan tetapi, seiring dengan kebutuhan, travel guide kini juga berfungsi sebagai alat untuk lebih mengenal daerah tujuan sebelum kita sampai di sana. Kita menjadi lebih siap dan bisa meminimalkan efek benturan budaya yang bakal terjadi di lokasi. (Travel Writer, Yudasmoro, Membuat Panduan (Travel Guide): 144-145)

Bagaimana menghasilkan artikel panduan yang berkualitas dan bermanfaat?

  • Think like a tourist! Pada dasarnya, panduan dibuat untuk membantu wisatawan yang akan datangke lokasi. Berpikirlah sebagai seorang turis. Temukan apa saja yang dibutuhkan oleh turis saat mengunjungi sebuah lokasi wisata
  • Membuat daftar penginapan. Mulai dari penginapan mewah, kelas menengah, hingga kelas melati. Data bisa didapatkan melalui website hotel bersangkutan atau datang langsung melihat kondisi hotel (tidak selalu harus menginap).
  • Membuat daftar kuliner dengan bertanya pada masyarakat lokal rekomendasi kuliner favorit di daerah bersangkutan. Cantumkan nama rumah makan, alamat, nomor telepon, menu khas, harga, dan suasananya.
  • Cantumkan important note. Karena setiap lokasi memiliki kondisi yang berbeda-beda, maka biasanya dicantumkan panduan khusus yang menerangkan mengenai situasi tersebut.

Nah, artikel travel yang bisa kamu buat diantaranya adalah artikel travel religi, artikel travel adventure, artikel travel culture, artikel travel profil, artikel travel horor, artikel travel sightseeing (wisata kota), dan artikel travel kuliner.

Meskipun buku ‘Travel Writer’ yang ditulis oleh om Yudasmoro ditujukan sebagai panduan profesi travel writer dalam media cetak. Saya berpendapat bahwa membaca buku ini sangat bermanfaat, khususnya bagi pihak yang ingin mulai melangkah dalam bidang travel writing. Tidak peduli apakah media yang ditujunya adalah media cetak, media online, atau keduanya.

9 total views, 3 views today

You may also like

1 Comment

  1. 5 travel blogger di atas juga favoritku 😀 menulis travel blog memang nggak boleh terlalu panjang agar tidak bosan tapi kok aku susah ngerem nulis sampai 1000 lebih hahaha..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *