Belajar Travel writing dari “Travel writer”: Part 1

Menulis, khususnya travel writing dengan hasil tulisan yang memiliki jiwa, karakter dan mampu membawa mengaduk emosi pembaca faktanya tidak bisa didapatkan secara instan.

Berawal dari keinginan mengenal lebih dalam profesi travel writer, saya akhirnya menemukan sebuah buku berjudul “Travel writer” karya Yudasmoro. Dari buku yang cetakan pertamanya diterbitkan pada tahun 2012 lalu oleh penerbit Tiga Serangkai ini, saya menemukan banyak ‘bumbu’ dalam travel writing. Apa saja? Yuk, langsung meluncur ke ulasan panjang di bawah ini.

Apa itu Travel Writing? Siapa itu Travel writer?

Kalimat terakhir dari paragaraf pertama bab “Apa itu Travel writer” membuat saya lebih memahami bahwa travel writer lebih dari sebatas penulis perjalanan, jurnalis travel atau penulis wisata. Dalam bab pertamanya, penulis menyampaikan bahwa konteks travel writer bisa dijabarkan menjadi bermacam-macam implementasi. Mulai dari travel writer yang fokus menulis buku, menulis untuk media masa (cetak dan online), hingga yang menulis untuk keduanya (blogger).

Dijelaskan pula bahwa travel writing bisa berupa sebuah instruksi (a guide to) atau panduan, cerita destinasi maupun profil. Untuk travel writing berupa panduan biasanya lebih merupakan panduan lokasi wisata, restoran, penginapan, dan data-data singkat mengenai daerah yang ditulis. Selain itu, travel writing saat ini juga sudah sangat berkembang, bisa berupa kuliner, cerita budaya, atau pertunjukan seni.

Oleh karena itu, penulis menekankan bahwa seorang travel writer harus mengerti arti pariwisata secara luas. Pariwisata itu sangat luas, ada wisata religi, wisata sejarah, wisata kuliner, wisata belanja, dan wisata budaya.

Travel writer, Profesi atau Hobi?

Saya menemukan bahasan sensitif yang diulas dengan apik dan mudah untuk dipahami di sini. Faktanya memang tidak jarang orang, bahkan saya sendiri, merasa gamang mengenai keputusan untuk serius menjadi seorang travel writer. Salah satunya tidak lain menyangkut mengenai uang. Seringkali muncul pertanyaan “apakah penghasilan sebagai penulis lepas, khususnya travel writer mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari?”.

Dalam pembahasan ini, penulisa menyisipkan pengalaman pribadinya yang memilih untuk menekuni profesi travel writer. Menurut penulis, konsep travel writer bukan sekadar traveling, menulis dan mengirim. Ada banyak hal yang beliau coba untuk menekuni profesinya, termasuk membangun jaringan dengan banyak pihak khususnya media, menulis hal-hal lain diluar travel, dan menekuni fotografi komersial. Dalam membangun jaringan bisa dilakukan dengan media, maskapai, EO, hotel, travel agent, atau pihak-pihak lainnya yang terkait dengan unsur wisata. Salah satu senjata penting yang dibutuhkan oleh travel writer dalam hal ini adalah kartu nama (cukup cantumkan nama, nomor telepon alamat e-mail, alamat blog dan profesi sebagai travel writer).

Masih memaparkan mengenai travel writer sebagai profesi utama, om Yudasmoro memberikan penjelasan yang lebih rinci melalui “Travel writer Layaknya Pengusaha”. Travel writer pengusaha? Ya, layaknya seorang pengusaha, travel writer juga harus memiliki visi dan misi dalaam bidangnya. Target yang jelas, ide, kemampuan dalam menyusun jadwal, dan kedisiplinan untuk mengejar target.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana menjalani profesi travel writer yang ‘menghasilkan’? Sekali lagi, tidak ada yang instan dalam menjalani profesi sebagai travel writer. Dalam mengawali profesi sebagai travel writer, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

  • Memiliki sebuah blog yang powerful

Bagaimana itu blog yang powerful? Bukan rahasia lagi jika blog merupakan suatu wadah yang sangat ampuh dalam mengangkat kredibilitas seorang penulis lepas, khususnya travel writer. Sebagaimana yang dituliskan om Yudasmoro di halaman 19. Namun, blog yang dimiliki oleh travel writer juga hendaknya ditampilkan secara profesional. Beberapa hal yang perlu diperhatikan travel writer yakni:

–          Fokuskan blog menjadi travel blog profesional. Caranya dengan merencanakan travel blog yang ingin dimiliki, isi konten, dan batasan-batasan apa yang akan dibahas. Travel blog juga tidak harus melulu berisi kisah-kisah perjalanan. Konten blog bisa berupa tips traveling, opini tentang persaingan industri wisata, transportasi, film atau buku yang membahas travel, agen travel, serta maskapai dan restoran.

–          Cobalah menulis travel dari sudut pandang yang berbeda.

–          Sisipkan alamat blog pada signature e-mail. Dengan begitu, orang-orang atau media yang menerima e-mail bisa lebih mengenal siapa kamu sebenarnya melalui blog yang kamu lampirkan tersebut.

Blog seperti apa yang disukai oleh pembaca? Menurut pandangan om Yudasmoro, ada beberapa faktor yang membuat sebuah travel blog disukai yaitu:

–          Tulisan dalam setiap postingan yang tidak terlalu panjang. Karena tulisan yang terlalu panjang hanya akan membuat pembaca bosan, selain itu juga membuat mata cepat lelah.

–          Menghadirkan foto-foto yang menarik dalam setiap tulisan yang diposting. Foto yang kamu sertakan membuat pembaca lebih menjiwai tulisan yang kamu posting.

–          Album foto blog sebaiknya tidak dijadikan sebagai media pamer diri yang isinya foto narsis. Pastikan foto-foto yang ada benar-benar bisa menggambarkan tulisan kamu.

–          Tampilan blog yang wajar, mengademkan mata, sedikit pernak-pernik, konten tidak rumit, dan format sederhana membuat pembaca betah berlama-lama mengeksplor isi blog kamu.

–          Setiap tulisan kamu memiliki bahasa yang menarik. Sehingga kamu harus kreatif dalam meracik judul, lead, isi konten, hingga penutup.

–          Blog yang memiliki konten menarik. Cobalah untuk berpikir out of the box demi melahirkan konten yang kreatif dan berbeda dengan isi travel blog pada umumnya.

Ada beberapa rekomendasi blog dari om Yudasmoro yang bisa kamu pelajari dalam menampilkan trave blog yang powerful. Blog-blog tersebut diantaranya:

–          www.naked-traveler.com

–          www.artson.blogspot.com

–          www.ranselkecil.com

–          www.ranselkosong.com

–          www.hifatlobrain.com

  • Menemukan Ide Tulisan

Sebagai travel writer tentunya dituntut untuk menjadi pribadi yang kreatif. Seorang travel writer harus menghasilkan konten yang menarik dan ‘berbeda’. Menulis merupakan bagian dari seni dan seni adalah masalah kteativitas, kurang lebih begitu yang disampaikan om Yudasmoro pada halaman 30. Salah satu kesulitan besar dalam menghasilkan tulisan yang kreatif, unik dan menarik adalah ide.

Namun, beliau menyampaikan bahwa mendapatkan ide sebenarnya bisa dilakukan dengan memperluas pergaulan dengan sesama travel writer maupun praktisi dalam bidang pariwisata serta jurnalistik. Selain itu, bisa juga dengan sering menghadiri worksjop, acara-acara festival, atau pameran seni dan fotografi.

Seorang travel writer pantang mengarang cerita fiktif. Travel writer, begitu melakukan proses peliputan, akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan data. Baik itu melalui pengamatan langsung, wawancara maupun studi kepustakaan.

  • Menyajikan Tulisan Bertema Travel

Masing-masing travel writer memiliki gaya menulis yang berbeda dan khas. Namun, menemukan gaya menulis faktanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Practice make perfect! Semakin sering menulis, maka lambat laun kamu akan menemukan gaya tulisanmu sendiri. Selain itu, sering-sering membaca tulisan orang lain yang lebih senior juga sangat membantu. Tidak melulu harus tulisan travel. Bisa juga cerpen, novel, maupun tulisan di media massa yang bisa dijadikan sebagai referensi dalam membentuk gaya tulisanmu sendiri.

Hindari musuh menulis jika ingin menyajikan tulisan yang berkualitan. Musuh menulis itu sendiri antara lain malas, menulis dengan kalimat yang tidak jelas, obral kata-kata dalam setiap tulisan, dan selalu kehabisan ide untuk menulis.

 

 

Travel writing seharusnya mampu melahirkan tulisan yang unik, penuh informasi, dan dengan kata-kata yang mengalir. Untuk menghindari kehabisan ide, bisa dilakukan dengan menetapkan terlebih dahulu angle tulisan, menetapkan fokus tulisan dan mengetahui informasi yang dibutuhkan dalam menyusunnya.

Sebuah artikel travel yang menarik merupakan artikel yang kaya akan pengalaman, dan tidak harus selamanya baik. Memasukkan hal yang kontradiktif sebenarnya mampu memperkaya khazanah penulisan artikel itu sendiri.

“Jika kamu serius mempelajari travel writing, mulailah menulis apa saja. Sama dengan kalau kamu tidak bisa menyetir dan ingin bisa mengendarai Ferrari, mulailah belajar menyetir mobil apa saja. Tidak harus nunggu Frerrari-nya dikirim ke rumahmu dulu, kan?” (Travel Writing, Yudasmoro, Memulai Travel Writing)

12 total views, 3 views today

You may also like

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *